Sabtu, 14 November 2009

Kepercayaan Nia

Untuk membangun kepercayaan perlu waktu yang sangat lama, sementara untuk menghancurkannya mungkin cukup sekejap mata...

Nia akhirnya mengetahui kenyataan ini, kenyataan menyakitkan bahwa ia telah dikhianati. Betapa menyedihkan, sudah lama ia mempercayai orang itu. Namun, ternyata orang itulah yang menghancurkan segalanya. Entah siapa lagi yang masih bisa ia percayai. Untuk sekian kalinya, ia merasa sulit mempercayai orang lain.

Nia menangis terisak di balik bantalnya diam-diam tengah malam. Ia tak ingin seorang pun tahu atau terbangun dari tidur mereka karena mendengar isak tangisnya. Sungguh, kali ini ia hanya bisa memutuskan untuk tidak mempercayai orang itu lagi.

Sebenarnya jika problem itu adalah problemnya saja, ia akan memaafkannya. Akan tetapi, ini adalah persoalan besar yang melibatkan banyak pihak. Dalam posisi sebagai seorang pemimpin pun, Nia masih bisa memaafkannya jika yang tersalah menjadi hanya Nia sendiri. Namun, ini adalah masalah ummat. Oleh karenanya, sebagai wujud takkan memaafkan orang itu, Nia takkan pernah mempercayainya sebagaimana kepercayaan yang sama. Sungguh tidak! TIDAK AKAN PERNAH!

>>to be continued<<